Laurie Helgoe (via onlinecounsellingcollege)
mau banget deh bisa solitude seutuhnya
Soe hok gie pernah mempertanyakan eksistensi diri sebagai manusia, hingga di cap berpikiran destruktif oleh kawannya. Konon, isi bicaranya tak lebih dari kedepresian.
Yang lucu, penulis biografi mempertanyakan hal ini. Kenapa seorang soe hok gie hanya memikirkan eksistensinya slama 2 bulan lebih tanpa memikirkan Indonesia, sedangkan bagi sang penulis eksistensi soe hok gie sudah sangat jelas, tidak perlu dipikirkan lagi. Ia lupa, pemikiran itu menyerang saat ia baru masuk kuliah, sekitar umur 18-19 tahun.
Yang lucu lagi, saya pikir penulisnya mungkin lupa rasanya kegalauan memasuki kepala dua :))
Atau ia memilih untuk tidak berpikir lebih lanjut, dan tetap berjalan.
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
Dan di waktu yang berdekatan, iseng baca buku bergambar anak TK, smog the dog city dan sepatu merah.
Moral yang ingin diajarkan ada yang mirip, tapi intinya beda, jangan seenaknya sendiri. Tapi penyampaiannya berbeda, yang satu si anjing hampir kehilangan makanan gara2 serakah, yang satu lagi si tokoh utama kehilangan kaki akibat kenakalannya.
Benar2 hilang dengan cara dikapak
Speechless :|
Antiklimaksnya? Dia berhenti nakal dan masuk surga.
Di satu sisi, Night, autobiography seorang yahudi yang diculik di jaman nazi yang saat itu umurnya masih 15 tahun, baru mempertanyakan eksistensi Tuhan dan kebenaran Talmud, tiba2 diculik dan dihadapkan kenyataan, penyiksaan didepan mata, sampai klimaksnya dihadapi pilihan membiarkan ayahnya mati perlahan atau membunuh ayahnya lebih cepat.
Bagaimana reaksi anak dalam melihat hal yang sadis?
Pendewasaan berawal dari kehilangan. Menurut kalian, apa lebih baik membiarkan anak merasa kehilangan, menyadari realita dunia dengan sendirinya, atau mempersiapkan segalanya serapih mungkin agar si anak tinggal “running program” saat dia menghadapi dunia?